Kamis, 27 Mei 2010 di 15.24 Diposting oleh sindoro 0 Comments

DI BALIK kontroversi yang marak di seluruh dunia baru-baru ini karena karikatur Nabi Muhammad yang termuat di koran Denmark, Jyllands-Posten, sesungguhnya terdapat perihal yang lebih mendasar, yakni perupaan sosok yang disucikan oleh Islam. Bagaimana sesungguhnya Islam melihat seni, khususnya seni rupa?
DI BALIK kontroversi yang marak di seluruh dunia baru-baru ini karena karikatur Nabi Muhammad yang termuat di koran Denmark, Jyllands-Posten, sesungguhnya terdapat perihal yang lebih mendasar, yakni perupaan sosok yang disucikan oleh Islam. Bagaimana sesungguhnya Islam melihat seni, khususnya seni rupa?
Saya kira, seni rupa, dalam hal ini lukisan dan patung, akan selalu bermasalah jika ditinjau dari doktrin Islam dan budaya Arab. Perupaan demikian tidak hanya terbatas pada sosok yang dianggap suci seperti para malaikat dan nabi, tetapi juga pada perupaan makhluk sekecil semut atau nyamuk. Ini terlihat dari beberapa hadis yang bersikap tegas melarang gambar dan patung. Hadis merupakan ajaran Islam yang kedua setelah Alquran.
Misalnya saja sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim, “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di Hari Kiamat adalah pelukis.” Pelukis dan pematung dianggap “menandingi” Allah, dengan “menciptakan” makhluk bernyawa. Ditulis juga dalam hadis itu, mereka akan dipaksa “menghidupkan makhluk itu”; jika tidak bisa, mereka akan disiksa. Dalam riwayat Muslim yang lain, “malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar dan patung.” Demikianlah sederet dalil yang biasa digunakan untuk mengharamkan gambar dan patung.
Dalam konteks kelahiran Islam dalam ranah budaya Arab, perupaan dalam bentuk patung erat kaitannya dengan media kemusyrikan. Adapun Islam hendak menegakkan ajaran tauhid dan menghancurkan segala media kemusyrikan itu. Perupaan yang dikenal oleh bangsa Arab ketika Islam lahir tidak bertujuan seni, tapi sebagai kultus dan sembahan.
Yang lebih ekstrim lagi, hemat saya, bangsa Arab waktu itu tidak memiliki budaya dan seni yang bernilai tinggi. Apalagi bila kita bandingkan dengan beberapa peradaban besar yang lahir ribuan tahun sebelum Islam datang, misalnya peradaban-peradaban Firaun di Mesir, Babilonia di Irak, Yunani, Romawi, Persia, Yaman dan Ethiopia.
Kondisi geografis tidak memungkinkan bangsa Arab mendirikan pusat peradaban. Hidup di tengah gurun pasir yang tandus dan terkucilkan oleh bukit-bukit dan lembah yang gersang, mereka hidup nomaden untuk mencari oase dan padang rumput demi mempertahankan hidup.
Sangatlah berbeda dengan peradaban-peradaban kuno yang lahir dan berkembang di tepian sungai-sungai besar. Peradaban Firaun lahir di tepi Sungai Nil, Babilonia di Sungai Eufrat (Furat), India di Sungai Gangga, dan Tiongkok di Sungai Kuning. Jika kita percaya pada teori bahwa seni dan budaya yang berkualitas itu berasal dari taraf kehidupan bangsa yang tinggi, maka bangsa Arab tidak memiliki potensi itu. Kualitas seni yang dikenal oleh bangsa Arab hanyalah seni sastra yang tercatat dalam syair-syair Jahiliyah.
Namun hal itu pun diragukan oleh Thaha Husain dalam bukunya Fî al-Syi’ir al-Jâhilî (Puisi Jahiliyah). Menurutnya, syair-syair Jahiliyah itu bukan berasal dari zaman Jahiliyah pra-Islam, tetapi berasal dari praktik pemalsuan (intihâl) yang dilakukan oleh penyair-penyair bangsa Arab kemudian. Tujuannya memuji kemulian dan kebesaran bangsa Arab. Syair terindah dan terunggul akan diabadikan dengan digantungkan di Ka’bah sebagai penghormatan yang digelari al-mu’allaqât (syair-syair yang digantungkan). Hakikatnya, syair-syair tersebut adalah propaganda untuk menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Arab memiliki cita rasa seni, sastra dan budaya yang tinggi. Padahal, kenyataannya sungguh bertolak belakang. Inilah paradoks pencitraan bangsa Arab yang dalam Alquran disebut berbudaya Badui yang nomaden, menanam bayi perempuan hidup-hidup, suka berperang, dan memiliki sifat-sifat masyarakat tak berbudaya lainnya.
Bangsa Arab juga tidak mengenal peradaban fisik yang agung. Ka’bah sebagai simbol arsitektur bangsa Arab, tidak menarik secara estetis. Bentuknya hanya kubus dan dibangun dari tumpukan batu-batu. Bahkan ketika Ka’bah mengalami kerusakan, yang merenovasinya adalah tukang-tukang dari Koptik (Mesir). Para tukang itu memiliki kebiasaan bernyanyi dan memukul gendang. Dari mereka itulah, bangsa Arab mengenal lagu dan musik.
Demikian pula Masjid Nabawi di Madinah, yang didirikan dari batang pohon kurma dan tumpukan batu saja. Posisinya berhimpitan dengan rumah Nabi yang hanya dibatasi tirai kain. Bandingkan dengan peradaban Firaun di Mesir dan Babilonia di Irak, ribuan tahun sebelum Islam tiba, yang telah mampu membangun kota dan istana yang megah.
Bangsa Arab pun sudah mengenal seni patung. Tapi janganlah menyamakan itu dengan, misalnya, patung-patung zaman Firaun di Mesir. Patung Arab terbuat dengan pahatan kasar yang tidak memiliki kualitas seni sama sekali. Bahkan Umar bin Khattab yang kelak dikenal sebagai Khalifah kedua itu pernah membuat patung dari adonan kue sebelum dia masuk Islam. Setelah disembahnya patung itu pun dimakannya. Ini sungguh berbeda dengan tradisi patung-patung di tempat lain, yang di samping sebagai obyek pemujaan juga garapan seni. Islam datang tanpa memerikan sumbangsih apapun terhadap dunia seni. Seperti tradisi agama sebelumnya, Islam terpengaruh oleh struktur budaya masyarakat yang didatanginya. Akhirnya karakter Islam juga mengulangi budaya bangsa Arab. Yaitu sama-sama tidak memberi tempat yang layak pada seni. Namun Islam menyumbangkan penulisan, tradisi yang sebelumnya dianggap aib oleh bangsa Arab. Adapun perangkat hukum, ritual keagamaan dari solat, haji, puasa jelaslah berasal dari budaya masyarakat pra-Islam. Hal ini digambarkan secara apik oleh Khalil Abd Karim dalam buku al-Judzûr al-Târîkhiyyah li Syarî’ah al-Islâmiyah (Akar-akar Historis Syariat Islam).
Begitu juga menurut Mohammad Arkoun dalam karyanya Ayna Huwa al-Fikr al-Islâmî al-Mu’âshir (Di Mana Pemikiran Islam Kontemporer?). Menurutnya, Islam hanya mengubah orientasi dari simbol teologis menjadi simbol politis. Hal itu akibat pergumulan dengan ideologi bangsa Arab waktu itu. Sebelum Islam, simbol-simbol teologis tersebut digunakan sebagai alat ketaatan terhadap suku yang diwujudkan dalam berhala (patung).
Islam mengubah orientasi simbolik dari patung (berhala) menuju Tuhan (Allah). Adapun simbol-simbol teologis yang ampuh menundukkan ketaatan masyarakat tetaplah dipertahankan. Secara sederhana pertikaian antara Nabi Muhammad dengan suku-suku Arab merupakan pertarungan politis dengan simbol teologis yang sama. Patung adalah saingan Allah. Fanatisme kesukuaan (al-‘ashabiyah) adalah saingan persaudaraan Islam (al-ukhuwwah al-Islâmiyah). Sementara dukun (al-kâhin) dan penyair (al-syâ’ir) adalah saingan Nabi.
Kapan Islam bersentuhan dengan dunia seni? Menurut Ahmad Amîn seorang sejarawan muslim terkemuka dalam karyanya, Fajr al-Islâm (Fajar Islam), bangsa muslim pada dasarnya tidak mengenal seni, budaya dan peradaban. Mereka mengenal seni setelah keluar dari sarangnya, tanah Hijaz (Saudi Arabia saat ini). Islam baru bersinggungan dengan seni rupa, musik, dan arsitektur setelah menguasai pusat-pusat peradaban dunia pra-Islam. Terutama pada masa Dinasti Umayyah di Damaskus (Siria) dan Dinasti Abbasiah di Baghdad (Irak). Demikian juga tradisi-tadisi keilmuan Islam seperti tafsir, hadis, fikih, ilmu kalam (teologi), dan tasauf, yang disusun dan dikodifikasikan karena pengaruh dari peradaban-peradaban lain.
Setelah Islam menguasai pusat-pusat peradaban, pendapat ekstrim yang melarang seni tidak lagi populer. Sebab, pemimpin-pemimpin politik yang berasal dari dinasti-dinasti Islam sangat menikmati kehidupan seni yang sekuler. Dinasti Umayyah memiliki peranan dalam mengembangkan tradisi-tradisi keilmuan Islam, mulai dari tafsir, hadis, fikih, dan penerjemahan filsafat Yunani. Mereka juga menikmati kehidupan seni musik, tari, rupa dan lain-lain. Dinasti Abbasiah sesudahnya adalah zaman keemasan, dan menjadi pusat peradaban dunia waktu itu. Sedangkan ulama agama yang ekstrim tidak berani menolak terang-terangan meskipun mengutuk secara diam-diam kehidupan penguasa Islam yang sekuler itu.
Jadi setelah merunut doktrin dan sejarah awal Islam, kita bisa menyimpulkan bahwa mencari pembenaran terhadap seni rupa dalam doktrin Islam adalah pekerjaan sia-sia. Namun bukan berarti perupaan terhadap Nabi tidak ada sama sekali. Penggambaran Nabi, baik dengan wajah terbuka ataupun dengan tertutup, nantinya ditemukan di kawasan Persia, Turki dan Asia Tengah. Perupaan tersebut merupakan “keusilan” para seniman yang hidup di alam sekuler, yang berasal dari luar tanah Hijaz (Arab), ataupun yang telah menjadi seniman sebelum masuk Islam. Misalnya sebuah lukisan yang dibuat pada 1315 di Tabriz, Persia (Iran), menggambarkan Nabi Muhammad tengah mengambil Hajar Aswad (Batu Hitam) dari selembar kain yang empat ujungnya dipegang oleh masing-masing kepala suku besar di Makkah. Cerita itu berasal dari kitab sejarah Jâmi’ al-Tawârikh karya Rasyid al-Dîn. Sedangkan manuskrip gambar itu saat ini berada di perpustakaan Universitas Edinburgh Inggris. Lukisan-lukisan lain yang menggambarkan sosok Nabi dengan wajah terbuka ditemukan di Bukhara (Uzbekistan) dan Herat (Afghanistan). Sedangkan lukisan sosok Nabi dengan wajah tertutup berasal dari perkembangan seni rupa dan arsitektur Dinasti Utsmaniyah di Turki. Kaligrafi yang sering diklaim sebagai seni Islam itu sebenarnya berasal dari tanah Persia. Sementara itu, mayoritas intelektual muslim yang menulis tafsir, hadis, tasauf, dan sains, bukanlah orang-orang Arab. Sebut saja al-Bukhari, Muslim, al-Ghazali, al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, al-Razi, al-Khawarizmi, al-Jabar, al-Haytsam, dan lain-lain. Bahkan ahli bahasa Arab yang terkenal sekalipun, al-Sibawih, bukanlah orang Arab. Sangatlah mengherankan bila ada ajakan untuk kembali ke zaman Nabi, Khulafaa al-Rasyidin, dan era salaf a-shâlih (orang-orang terdahulu yang salih). Sebab itulah ajakan untuk kembali pada era masyarakat yang terbelakang. Marilah kita menyadari bahwa seni yang sering diklaim sebagai seni Islam bukanlah berasal dari ajaran normatif Islam, tapi dari sisi-sisi historis Islam. Bukan Islam sebagai sebuah agama an sich, tapi Islam yang telah berinteraksi dengan berbagai peradaban pra-Islam.

0 Responses so far.

Posting Komentar

KOMENTAR ANDA